msb

January 21st, 2007 by nurma-manis

                                        My Secret Boyfriend

Beberapa bulan yang lalu, seorang anak dari kelas 3 di SMA flamboyan di
temukan gantung diri di kamar tidur rumahnya. Skandal itu menjadi buah bibir
lama sekali.

 Teman teman dekatnya tidak tahu
masalah apa yang dialami oleh Tina (anak yang bunuh diri itu) kata Rena Tina
nggak pernah terbuka dengan teman-temanya. Dia selalu menyimpan masalah
sendirian.

“Masak kak Tina itu nggak percaya sich ama temen sendiri hingga selalu
menyimpan masalah sendirian,”tukas Nana.

“Iya! Hari gini nggak fair ama sohib. Emang buat apa dia arti sohib itu
apa ya ! “seru Turi.

“ Pokoknya. Kita harus fair dengan sohib. Kalau punya masalah harus
menceritakannya biar beban berkurang. Kita harus saling terbuka,nggak ada yang
dirahasiakan.apalagi masalah cowok ! “ kata Meyla,dan semua mengatakan setuju.

Cindy inggat, dia paling bersemangat saat itu. Meraka berjanji untuk
saling terbuka dengan sahabat.

Dan sekarang, pikir Cindy, ia telah melanggar janji itu. Dia telah
menyembunyikan sesuatu dari teman-temanya. Dan yang lebih parah lagi yang
disembunyikan adalah pacarnya.

Maafkan aku teman-teman. Aku telah mengingkari janji kita, sebenarnya aku
mau menceritakan itu semua tapi aku belum sanggup mengatakanya.maafkan aku
sahabatku. Batin Cindy.

* *
*

“ Na, Tur, San, Jen, Cin, gimana kalau besok kita ke mall yuk? CMPC2, “
ajak Meyla.

“ apaan tuh CMPC2,” tanya Jeny yang agak tulalit.

“ Ampun deh, jen ? CMPC2 itu cuci mata plus cari cowok gitu, kamu ini
tulalitnya makin parah sich.”

“ Hah, besok. Gimana ini ? aku kan sudah janjian sama Ronald mau nonton
dealova. Aku nggak mungkin batalin janji dengan Ronald. Kan aku janjianya lebih
dulu denganya,” pikir Cindy.

Sorry ya, aku besok nggak bisa ikut. Soalnya aku mau ngantarin mama ke
salon,” akta Cindy berbohong.

“Wah! tumben lho,Cin, mau ngatarin nyokap ke salon. Biasanya sich ogah.”

“kan aku juga mau creambath,” tambah Cindy biar nggak di curigai
berbohong.

“ ya udah deh! nggak bisa juga nggak pa-pa

“Maafin aku ya teman teman.Aku nggak bermaksud berbohong sama kalian.
Maafkan aku….batin Cindy.

* *
*

“ Hai, Cin. Gimana kabarnya?” pertanyaan yang sama setiap kali ketemu
dengan Ronald.

“ Baik.’’

“ Yuk kita berangkat.”

“Ok!

Setelah berpamitan dengan orang tua , mereka berangkat.

“Cin, kita jalan-jalan ke mall dulu ya sambil nunggu filmnya mulai. Nggak
pa-pakan,” ajak Ronald.

“E….nggak pa-pa deh.”

Gawat, kalo sampai ketahuan teman-teman.pokoknya nanti harus hati-hati.

“Ren. Kita ketoko buku aja. Aku mau cari novel,” ajak Sindy. Dia tau
tema-temanya nggak akan masuk ketoko itu. Mereka tidak akan suka dengan toko iu
kalau tidak ada tugas.

“Eh Cin. Sini aku kenalin temen kampus aku. Son, kenalin nich; Sindy,
cewek aku. Cin. Sony temen aku , “ Ronald mengenalkan mereka berdua.

“EH tunggu tadi sepertinya aku lihat Sindy di tikungan sana tadi,” kata
Nana sanbil nunjuk arah timur.

“Nggak mungkin ! lho salah lihat kali. Barang kali kacamata lho perlu
diganti.’ Maklum Nana sering kali ganti kacamata kalo nggak ganti frem ya ganti
lensa.

“Gimana kalau kita telpon rumahnya aja”, ide cemerlang Meyla selalu datang saat yang tepat.

Meyla menelpon cidy. Kebetulan yang mengakat mamanya. Meyla menanyakan
Cindy. Mereka pun bercakap-cakap sebentar lalu telpon di putus.

“Gimana Mey ?” tanya teman-teman yang lain.

“Cindy gak ada dirumah , yang akat telpon tadi mamanya. Katenya dia lagi
pergi dengan cowok,’ kata Meyla murung.

“ Berarti dia bohongin kita”, kata Jeny.

“Gini aja kitakan udah tau kalo ternyata Cindy menyembunyikan sesuatu dari
kita-kita pura-pura aja nggak tau. Biarin aja Cindy memberitahu sendiri pada
kita. Kalo dia nggak ngasih tau baru deh kita sidang dia, Ok! ‘ Meyla
memberitahukan idenya. Semua setuju.

Dirumah Cindy hanya melamun saja. Bingung, sudah 1 bulan dia jadian dengan
Ronald, anak kuliahan semester 3 fakultas teknik yang ia kenal saat ulang tahun
sepupunya 2 bulan yang lalu.

Apa yang harus aku lakukan ? apa alasan yang akan aku berikan pada
teman-teman kenapa aku tidak memberitahu mereka sejak dulu ?

Diambilnya ponsel diatas meja. Ditelponnya Ronald”, Ron, kita bisa nggak
ketemu sekarang. Ada yang mau aku omongin. Penting, kamu dimana sekarang?”

“Lagi di kampus nich. Habis selesai kelas”.

“Kita bertemu setengah jam lagi ditempat biasa. Kamu nggak usah jemput
aku. Aku kesana naik taksi saja”.

“Ok! Aku tunggu”.

“Bye”.

“Bye”.

Cindy langsung ganti baju dan berangkat ke tempat yang telah ditentukan.

“Emangnya mau ngomongin apa sich, Cin? Kok sepertinya penting banget,
tanya Ronald.

“Ron, aku minta maaf. Sekarang aku lagi bingung. Ini soal aku, kamu dan
temen-temenku,

“emangnya ada apa ?” tanya Ronald tambah binggung.

“Aku minta maaf. Aku mau jelasin mengapa aku nggak pernah ngenalin kamu
dengan teman- teman aku sedangkan aku selalu kamu kenalin dengan teman-temanmu.

“Ya, aku sengaja nggak mau nanyain langsung kekamu. Aku nunggu kamu ngomong sendiri keaku. Kamu paati punya
alasan sendiri mengenai hal itu.”

“Ya, sebenarnya teman-teman nggak ada yang tau aku jadian sama kamu.aku
merahasiakan dari mereka. Maafkan aku Ron.”

“Jadi aku ini pacar rahasiamu dong.nggak papa kok aku nggak marah. Nggak
usah di pikirin. Lalu apa yang kamu pikirin?”

“Dulu aku dan teman-temanku, Meyla, Nana, Turi, Santi dan Jeny berjanji
bahwa dalam persahabatan kami menjunjung tinggi keterbukaan nggak ada masalah
yang di sembunyikan. Begitu juga masalah cowok. Tapi sekarang, aku sudah
mengingkari janji itu, Ron, aku merahasiakan pacaran denganmu sama mereka.
Waktu itu aku belum punya keberanian untuk mengatakannya pada mereka.aku takut
kalau mereka tahu nanti mereka akan membenci dan menjauhi aku Cindy menangis.

“Sudahlah Sin. Jangan menagis lagi. Kita akan menyelesaikan masalah itu
sama-sama,” kata Ronald menenangkan Cindy.

“Sekaang gini aja. Kamu ceritain semuanya sama mereka kamu jelasin
sebab-sebabnya setelah itu terserah tanggapan teman-temanmu. Kalo mereka masih
menganggap kamu temanya, mereka pasti mau memaafkan kamu ,”

“Apa kabar Ron?”

Ronald mengangguk.

* * *

Di sekolah, Cindy diam saja sejak pagi. Waktu istirahat teman-temanya
mendatanginya.

“ Cin, kenapa kamu hari ini diam saja?”

“ Teman-teman maafkan aku. Aku …..belum selesai bicara Cindy beruraian
air mata, “ Aku nggak bermaksud mengingkari janji kita”. Hening. Semua diam
mendengarkan penjelasan Cindy.

“ Sebenarnya aku sudah punya pacar kami sudah jadian selam 1 bulan.
Maafkan aku ya teman-teman.

“Wah itu namanya pacar rahasia,dong Eh sin, siapa dia?” sahut Turi. Semua
melotot padanya.kadang-kadang mereka jengkel juga dengan kebiasaan Turi yang
suka menyahut bicara orang.

“Namanya Ronald. Dia kuliah di UNS Fakultas teknik semester 3. Aku
mengenalnya saat ulang tahun sepupuku 2 bulan yang lalu. Sekali lagi aku minta
maaf. Aku harap kalian mau memaafkan aku dan tetap mau jadi sahabatku ,” lanjut
Cindy.

“E……sebenarnya kami sudah tau kamu menyembunyikan sesuatu dari kami, kamu
telah mambohongi kami. Dan yang kamu rahasiakan itu adalah cowok. Kami hanya
diam saja dan menunggu kamu untuk menjelaskan sendiri pada kami,” kata Meyla.

“I…..jahat lho, Cin. Punya cowok kok dirahasiakan. Nggak-nggak kalau
nanti aku rebut,”goda Jeny sambil menjubit Cindy.

“Ye……mana mau dia ama elho, GR banget sahut Nana.

“Kenalin ke kita dong Cin,,” kata santi.

“Iya, nanti aku kenalin.”

“nanti ! Dia nanti kesini !” seru
Turi, ajak kalian makan-makan, mau kan ?

“Wah ! mau-mau !” Jeny nggak mau ketinggalan kalo soal makanan.

“Jadi ….kalian mau memaafkan aku?” tanya Cindy masih binggung.

“Ya tentu dong Cin, kamu tetap sahabat kami. Setiap orang pasti pernah
melakukan kesalahan. Ya kan teman-teman?”

“ Yo ha….sahut yang lain

“ Makasih ya, kalian memang sahabatku yang terbaik “. Mereka berpelukan

* * *

Sahabat sejati akan selalu memahami apa yang dialami sahabatnya.

   

 

Tamat

asp

January 21st, 2007 by nurma-manis

                                        Akhir Sebuah
Penantian

Aku akan kembali tahun baru nanti. selamat tinggal sayang ……’’ itulah
kata-kata yang diuacapkan Rendy tiga bulan yang lalu sebelum mereka berpisah di
bandara. Rendy melanjutkan studynya di londen setelah ia lulus SMA dan aku
masih harus menunggu 1tahun lebih untuk menyusul melanjutkan study di sana.
Itupun kalo bonyak setuju.

Tiga bulan telah berlalu, lisa belum juga mendapatkan kabar dari Rendy.’
Apakah dia

lupa alamatku ? Apakah dia terlalu sibuk belajar ? Masak sih nggak bisa
ngasih kabar sedikitpun. Bahkan dia juga nggak nelfonato SMS juga bisa , tanya
lisa dalam hati.

Dia berjanji akan menunggu Rendy kembali.Tapi sampai sekarang Rendy nggak
pernah kasih kabar.Dia jadi meragukan kesetiaan dirinya sendiri. Apakah dia
harus menunggu orang yang belum tentu memikir aku.

 Tiga hari yang lalu Anton mengatakan
Cintanya pada Lisa, Lisa menolaknya dengan alasan udah punya cowok. Tapi
benarkah Rendy masih miliknya kalau tak satupun kabar ia terima.

 * * *

Akhirnya tiba juga tahun baru
yang dinantikan Lisa. Tapi Rendy tidak pulang bahkan tidak memberinya ucapan
tahun baru. Dia duduk di depan komputer disamping telphon. Siapa tahu saat
tengah malam nanti Rendy kirim email atau telpon.

“Lis, gimana tahun barunya
dengan Rendy tanya Sisy disekolah.

“ Buruk !” jawab Lisa singkat.

“ Kok gitu. Bukanya seneng dia
pulang Lho di bawain oleh-oleh apa dari london bagi-bagi dong,” kata Sisy
nerocos.

“ Mending pulang ! Dia aja ngak
ngucap apa-apa kok ke aku.Tidak telpon, tidak kirim email, bahkan nggak ngasih
tahu kenapa dia nggak bisa pulang, “ Kata Lisa sedih. Dia menangis.

“ ya sudah. Jangan sedih lagi dong.ini kan masih tahun
baru. Mulailah dengan hidup yang baru. Lupakan dia. Masih banyak kok cowok yang
mau ama lho. Ya kan? “ kata Sisy menghibur

“ Aku nggak mungkin lupain dia,
Sis. Aku udah janji menunggu dia. Aku akan tetap setia padanya. Aku ngak akan
mengkhianatinya”.

“ Gue sich cuma nyaranin. Kalo
gue jadi lho sich Gue pasti sudah lupain dia dan cari cowok lain. Gue sich ngak
betah kalo harus pacaran jarak jauh. Apalagi ngak kasih saling kabar gini. So
pasti banyak pertanyaan dalam diri aku.

“ Emang dasar kamu ini ! Mana
ada cowokmu yang bisa bertahan sampai 6 bulan. Dapat yang baru yang lama di
tendang. “

“ Biarin aja ini kan baru pacaran.kita nikmati aja masa muda ini. Ya…kalo
ngak cocok mau gimana lagi masak dipaksain.”

Mereka sama-sama tertawa.

“ Nah…. gitu dong. Hapyy and smile. Eh ! lis, gimana kalo nanti kita
kuliah di unifersitas yang sama ya, mau ngak?” tanya Sisy.

“Nggak tau deh. Liat aja entar.Tapi aku maunya nerusin ke
london nyusul si Rendy. Tapi ortuku nggak setuju. Aku kan cewek masak study
jauh-jauh sampai keluar negeri segala. hah…. tau dirikan orangtua dulu. Kuno !
kayak disini kekurangan universitas aja.gitu deh katanya waktu gue kasih tau
keinginan gue itu. Ya udah deh ! liat aja entar. Gue sih mau-mau aja sama-sama
lho.”

* * *

Akhirnya tiba juga saat yang dinantikan kelulusan. Lisa dan Sisy ikut
SPMB dan diterima.

“ Lis, tuh kan bener feeling gue. Kita sama-sama lagi di kampus cuma beda
fakultas aja.gue sich udah langsung drop kalau masuk kedokteran. Maklum otak
gue kan pas-pasan. Bokap gue sich pingginya gue jadi pengacara.kalo tau gitu
dari SMA gue masuk IPS nggak masuk IPA rugi. Gue melajari IPA eh…..tau-tau
suruh masuk hukum keluh Sisy di kantin.

“ Eh Sis. kan kita beda fakultas so pasti kita jarang ketemu. Gimana kalo
kita buat kesepakatan. Kalo pas nggak adad kuliah kita ketemu ya. Ok! Setuju.”

“setuju.”

 *  * *

“Lis.lho dapat salam dari tory. Dia sering banget nanyain lho. Katanya
sich dia Cinta pada pandangan pertama ama lho. Cie…..baru beberapa bulan disini
udah dapat penggemar.eh,lis tadi waktu aku mo kesini kak Jody titip salam juga
untukmu.” Kata Sisy saat ketemu Lisa di kantin.

“Oo…Tory temen lho itu. Eh siapa tadi kak Jody. Kak Jody ketua ospek
itu,”tanya Lisa heran.

“yoha ! Dia sejak ospek perhatian banget ama lho. Itu sich kata Nia
tetangga gue yang juga masuk kedoteran. Katanya kak Jody juga ngajak lho saat
malam inaugurasi,ya kan ? kok lho ngak cerita-cerita ama gue sich.’

“Ah…. Gue pikir itu ngak
penting sich. Buat apa di ceritain.”

“Ah…lho jahat deh nggak mau cerita ama gue. Eh lis itu kak Jody. Dia
pasti kesini nyamperin lho. Kalo dia nggak nyamperin gue yang bayarin deh
makanan lho. Tapi kalo dia nyamperin lho yang bayarin ya makanan gue.”

“ ye… enak di lho ngak enak di gue makan gue kan dikit nggak kayak makan
lho.”

“ kak Jody ! “ panggil Sisy .

“Sis, apaan sich lho. Lho curang.” Sisi mencibir

“Hai Sisy, hai Lisa.’’

“ hai kak,” sapa mereka bersama.

“ Lis, gimana kesanya kuliah disini ?

enak nggak ?” tanya kak Jody pada Lisa.

“ Enak kak. Senior dan dosenya ramah-ramah.”

“ eh ngomong-ngomong di mana cowokmu ,Sis, kok kamu nggak sama dia.”

“Dah putus kak.Bosan ah pacaran ama dia. Pacaran kok cuma ketaman makan
bakso gitu aja.”

“ maklum kak si Sisi ini kan tipe bosanan.”

“ Ye… gue sich nggak kayak lho yang setia nunggu satu tahun lebih tanpa
kabar

gini. Kalo gue jadi lho udah gue talak 3 deh. Kan udah 1 tahun lebih
nggak di kasih nafkah lahir batin.”

“ Ye…..emangnya gue udah nikah ,pake di kasih nafkah lahir batin segala.

“ e…….kalo boleh tau pacar Lisa kemana ?” tanya kak Jody bingung.

“ Pacarnya study ke london, tapi sudah 1tahun nggak pernah kasih kabar.”

“ ooo…”

Jadi Lisa udah punya cowok. Tapi nggak papa deh aku akan tetap ngejar
dia, pikir Jody.

* * *

Hari demi hari, bulan ke bulan, tahun berganti tahun. Tak terasa Rendy
sudah niggalin dia selama 2 tahun.Sudah 100 surat yang ia tulis untuk Rendy
tapi tak dikirimkanya kaRena ia tidak tahu alamat Rendy.

“ Ren , sudah dua tahun aku menunggumu. Aku lelah memikirkanmu. Mungkin
ini adalah takdirku. Kamu bukanlah untuku.Aku sudah memutuskan tiada tempat
untukmu di hatiku. Namun aku masih sayang padamu.

Aku akan mulai dengan kehidupanku yang baru. “

Diselesaikanya surat yang terakhir untuk Rendy.Setelah itu Lisa berfikir

Jawaban apa yang akan diberikan pada kak Jody besok.

* * *

“Kak.aku sudah memutuskan untuk mengakhiri penantianku. Akuakan melupakan
Rendy.Dia akan menjadi masa laluku.Aku akan memulai dengan kehidupanku yang
baru. Dan aku akan merima kakak sebagai pacar aku, “ kata Lisa saat bertemu
dengan Jody.

“ Benarkah itu lis. Oh….terima kasih Lisa.Aku sangat menyayangimu.”

“ Aku juga sayang sama kakak.”

“ Ren, maafkan aku ……” batin Lisa

   

 

Tamat

bk

January 21st, 2007 by nurma-manis

                                    Biarkan
Kumengalah

“La, sebaiknya kita putus. Kita temenan aja, “kata Rizal pada Lala di
warung tenda sepulang sekolah.

“Apa?!! Kenapa Riz? kok tiba-tiba kamu minta putus bahkan tanpa sebab,”
kata Lala kaget.

“Aku……sudah punya cewek lain, “jawab Rizal singkat, padat, jelas.

“Apa? kamu selingkuh! kamu kok tega-teganya menyakiti aku dengan cara
begini sich. Emang apa kesalahanku hingga kamu berbuat ini padaku. “Lala sakit
hati banget, orang yang ia sayangi mengkhianatinya. Namun dia tetap tabah dan
sabar dil depan Rizal. Dia berusaha untuk tetap tersenyum meskipun hatinya
hancur.

“Siapa cewek itu Riz. Kenalin
ke aku donk! Dia anak mana sih siapa tahu aku kenal dengan dia?” tanya Lala.

“Nggak penting kita bahas dia. Kamu udah kenal dia kok. Dia Lina.
Sekolahnya di sebelah sekolah kamu. “Lala tersentak. Lina….. L – I – N – A
anak sekolah sebelah, teman aku sendiri.

Diam. Sunyi.

“Sebenarnya sejak dulu Andre suka sama kamu. Dia baru memberi tahu akau
sehari setelah aku nembak kamu. Selama ini aku hanya memendamnya. Dia sering
curhat ke aku. Tapi sayang dia nggak berani ngomong langsung ke kamu. Gimana
kalau kamu nerima dia jadi cowok kamu, La?” Lata Rizal memecah keheningan.

Dek!” Jantungku berdetak cepat. Kepalaku makin pusing. Belum selesai
masalah yang satu tibmul lagi masalah yang baru”, pikir Lala.

“Kok kamu diem aja, La. Jawab dong. Gimana? mau nggak nerima Andrejadi
cowok kamu?” Rizal bertanya lagi.

“Riz, aku mau tanya sesuatu dulu ama kamu baru setelah itu aku jawab
pertanyaan kamu tadi”, kata Lala akhirnya.

“OK! tanya apa?”

“Kamu ini sayang sama aku nggak sih! kok kamu tega-teganya mutusiln aku
begitu aja dan malah nyuruh akau jadian sama Andre”.

“Aku sangat menyayangil kamu. Aku juga sayang sama sahabagku. Aku nggak
tahu harus memilih kamu atau Andre. Sungguh berat bagiku untuk mengambil
keputusan ini. Aku mohon kau paham posisiku, La. Aku selalu menCintaimu. Dulu,
sekarang dan selamanya”, Rizal menjelaskan. Matanya merah menahan air mata.

“Aku pikir-pikir dulu dech! sekarang aku mau pulang:, kata Lala kemudian.

“Ayo, aku antar”.

Selama dalam perjalanan mereka saling membisu. sampai di rumah Lala,
Rizal langsung pamitan tanpa mampir dahulu seperti biasanya.

Lala membanting pintu kamarnya. Dia menjatuhkan diri ke tempat tidur,
terlentang memandang langit-langit kamarnya. Air mata mengalir di pipinya.

“Apa yang harus aku lakukan? Bisakan aku merelakan Rizal dengan temanku?
Haruskan aku menerima Andre sebagai cowok aku”, kata Lala kepada dirinya
sendiri.

****

Selama beberapa
hari, semua kegiatan Lala nggak ada yang bener.

Sepulang sekolah
Lala bertemu degnan Lina.

“Lin, selamat ya. Kamu kan jadian sama Rizal kok nggak bilang-bilang. Aku
tunggu makan-makannya lho!” Kata Lala mencoba gembira.

“Makasih ya La, Sory deh. Aku masih ragu sama Rizal soalnya dulu aku
ngirain dia itu cowok kamu, kan kamu deket banget sama Rizal. Sory ya La! Aku
udah berprasangka buruk sama kamu. Ya udah yuk. Kita ke warung tenda biasanya.
Aku yang traktir”, kata Lina.

“’Kami emang pacaran kok. Tapi sekarang semua sudah berakhir kaRena Cinta
segitiga. Dan aku harus merelakan kekasihku jalan sama kamu. Dan kamu malah
curhat sama aku tanpa ada rasa berdosa sedikitpun”, bathin Lala.

“Nggal pa-pa kok. Aku dan Rizal Cuma sahabatan aja, nggak lebih. Buatku
sekali sahabat tetap sahabat selamanya. Dia sayang banget kok ama kamu.
Percayalah! dulu dia pernah curhat ke aku kalauh dia udah suka sama kamu sejak
dulu”, kata Lala berbohong.

“Apa iya sich, La? jadi selama ini dia menyimpan antanya dan hanya berani
curhat ama kamu. Sebenarnya sejak pertama kami kenalan aku sudah suka sama dia.
Aku gngak berani ngomong ke dia karna aku ikir dia pacar kamu”,.

“Hah!! jadi selama ini kamu juga Cinta sama Rizal. Kalo tahu begitu dari
dulu aku nyomblangin kalian”.

Selesai makan mereka pulang. Sampai di rumah Lala mengurung diri di
kamar.

“Jadi…… jadi selama ini dia juga naksir sama Rizal. Aku mesti
gimana?” kata Lala terisak-isak di tempat tidur.

“Baiklah! aku sudah memutuskan. Inilah jalan yang aku pilih. “Lala
bangkit dari temapt tidur. Dia mengambil handphone nya lalu ditekannya nomor Rizal.

“Ada apa La?” sapa Rizal.

“Riz, aku pengin ngomong sesuatu ama kamu. Bisa nggak kita ketemu nanti
jam 7 di tempat biasa”, kata Lala.

“OK! aku jemput kamu ya?”

“Nggak usah! aku diantar sopir aja”.

“Ya udah”. kata Rizal agak kecewa.

“Sampai ketemu nanti, bye”.

“Bye”.

Jam 7 kurang 5 menit Rizal sudah sampai di tempat janjian. Kemudian Lala
pun tiba.

“Riz, aku sudah memutuskan. Biarlah aku yang mengalah. Aku rela kamu
jadian sama Lina. Mungkin aku juga akan menerima Andre. Itu kulakukan demi kebahagiaan sahabatkau”, kata
Lala.

“Apa maksud kata-katamu itu, La?” tanya Rizal tidak mengerti.

“Lina bilang ke aku kalau sejak perkenalan kalian, Lina sudah naksir sama
kamu. Dan aku bilang ke dia kalo kamu juga naksir dia”.

“La, kamu sadar nggak sich ngomong begitu,. Aku jadian sama dia agar
sahabatku berani ngungkapin perasaannya ke kamu. Tapi aku tetep syang sama
kamu. Aku nggak pernah Cinta sama Lina. Terserah kamu anggap ini apa. Kamu
tuduh aku hanya jadian dia tempat pelarian saja atau aku hanya mempermainkan
dia. Tpi inilah kenyataannya,La. Aku masih menCintaimu”.

“Riz, kamu jangan egois dong. Biarpun aku nggak jadian sama Andre, kamu
nggak boleh mutusin Lina. Dia sangat menyayangi kamu. Aku nggak mau sahabatku
terluka. Biarlah aku yang menanggung semua ini. Cukup aku sja yang terluka dan
sakit hati. Biarlah Cinta kita hidup di hat8i kita. Kita akan mulai dengan
hidup kita masing-masing”.

“Baiklah! kita sama-sama berkorban demi sahabat kita. Lambat laun kita
akan bisa menCintai pacar kita masing-masing”, kata Rizal setengah menangis.

“Selamat tinggal kekasihku……..” Lala melangkah pergi.

“Selamat tinggal Cintaku. Lala, aku selalu menCintaimu….!” teriak
Rizal.

Lala mengurungkan niatnya untuk menoleh Dia tetap melangkah kemobilnya.

“Aku juga menCintaimu Riz”. Kata Lala dari jauh.

***

Cinta ini tidak akan pernah pudar
hanya kaRena angin atau badai. Cinta ini akan selalu hidup dalam hati kita.

TAMAT

cthm

January 21st, 2007 by nurma-manis

                   Cinta Tak Harus Memiliki

“Sis, maafkan aku. Sebenarnya
aku juga sayang padamu, tapi aku sudah di jodohkan oleh orang tuaku sejak aku masih kecil dengan anak teman ayahku. Sorry aku nggak kasih tahu kamu
sejak dulu soalnya aku juga baru dikasih tahu oleh orang tuaku tadi malam”,
kata Niko saat bersama dengan Siska di rumah makan.

 Siska hanya diam membisu. Dia
bingung harus bicara apa. “Nggak pa pa kok, Nic. Aku tahu maksud orang tuamu
itu baik. Kalau aku jadi kamu, aku pasti akan melakukan hal yang sama”, kataku
tenang padahal bendungan air mataku hampir pecah.

 “Maaf banget, Sis. Aku memang
bodoh. Aku nggak bisa memperjuangkan Cinta kita. Aku hanya nurut sama orang tua
tanpa bisa mengelak. Bahkan jodohpun aku harus menuruti mereka, seseorang yang
disorongkan dari masa lalu,”kata Nico sedih.

 Siska nggak mampu bicara lagi. Dia
bahkan sudah terisak-isak.

 “Baiklah
Nic. Kita putus saja. Ini demi kebaikan kita berdua. Kita sahabatan saja,”kata
Siska akhirnya.

 Nico
mengangguk. Nico mengantar Siska pulang. Sampai di rumah, Siska mengurung diri
di kamar. Dia mendekap boneka panda pemberian Nico.

 “Kenapa
begitu cepat berakhir? Padahal baru kemarin mereka menikmati indahnya pacaran.
Hari ini tepat 3 tahun 3 bulan 3 hari mereka jadian. Salah siapakah ini? Siapa
yang patut disalahkan? Aku, Nico, cewek itu, ataukah orang tua Nico. Ini bukan
masalah siapa yang salah melainkan inilah takdir Tuhan,”pikir Siska.

 “Baiklah
mungkin Nico tidak ditakdirkan untukku. Dia memang Cinta pertamaku. Kata orang
sich ‘first love never die’. Dia selalu ada di dalam hatiku. Biarlah dia
menjadi pelangi di hatiku. Indah dipandang namun tak terjangkau. Kan cowok di
dunia ini bukan hanya dia doang. Masih banyak cowok yang lebih baik dari
dirinya yang masih jomblo,”hibur Siska pada dirinya sendiri.

* * *

 Beberapa
hari kemudian, Ardi,cowok baru di kampus yang baru pindah dari Surabaya
menyatakan Cintanya pada Siska.

 Setelah
menimbang-nimbang akibatnya, Siskapun menerima Ardi. Beberapa bulanpun berlalu
tanpa ada masalah yang serius dalam hubungan mereka.

 Bulan
juli mereka menerima undangan pernikahan Nico dan Viona (cewek yang dijodohkan
dengan Nico). Dek! jantung Siska berdebar kencang. “Akhirnya mereka menikah
juga,”pikir Siska.

 Siskapun
menghadiri pernikahan itu dengan Ardi. Siska dan Ardi sepakat untuk mengerjai
kedua temennya itu. Mereka memberikan 3 buah kado. Yang pertama isinya jam
weker yang sudah mereka setel berbunyi jam 12 malam nanti. Yang kedua berisi
boneka yang apabila mereka buka mereka akan ditonjok. Yang ketiga baru deh kado
yang sebenarnya.

 “Di,
kamu bisa bayangin nggak nanti malam mereka ngapain?”tanya Siska.

 “Wah
yang pasti mereka sibuk membuka kado-kado yang menimbulkan bunyi ini. Lalu
besok pagi mereka membuka kado yang ini (menunjuk salah satu kado). Mereka akan
kena tonjokan boneka ini,”jawab Ardi semangat.

 “Ha
ha ha….,”mereka berdua tertawa bayangin yang akan terjadi nanti.

 Setibanya
mereka di pesta, mereka sibuk berjabat tangan dengan temen-temen mereka.

 “Nic,
pacar kamu yang mana? Kan aku belum tau jelas”, kata Viona. Maklum Viona belum
kenal semua teman-teman Nico dan karena Viona kuliah di Bandung. Dia hanya tahu
Siska hanya dari foto-foto yang dimiliki Nico.

 “Itu
dia!” Nico menunjuk Siska.

 “Lalu
siapa cowok yang disebelahnya itu,”tanya Viona.

 “Oo…
itu Ardi. Cowoknya Siska.”

 Siska
dan Ardi menghampiri kedua mempelai.

 “Selamat
ya Nic,”kata Siska saat menyalami Nico.

 “Selamat
ya Viona. Semoga kalian bahagi selalu dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah
warochmah,”kata Siska saat menyalami Viona.

 Lalu
mereka menuju ke teman-teman yang lain. Kemudian Viona menghampiri Siska.

 “Eh,
kamu Siska ya? Kamu bahkan lebih cantik dari apa yang Nico ceriatain selama
ini. Bahkan beda sekali dengan fotonya.”

 “Jadi
Nico menceritakan semuanya kekamu?”tanya Siska bingung.

 “Iya.
Saat pertemuan kami yang pertama, kami menceritakan tentang diri kami. Nico
juga menceritakan kalo dia punya pacar namanya Siska. Dia menceritakan banyak
banget tentang kamu,”kata Viona.

 “Waduh!
Cerita banyak tentang aku. Pasti yang jelek-jelek deh. Ya kan?”

 “Nggak
juga. Tapi kebanyakan yang baik-baik kok. Sekarang aku baru tahu yang
sebenarnya. Ternyata apa yang dibilang Nico itu benar. Kamu itu orangnya supel,
baik, ramah, murah senyum,”puji Viona.

 “Ah…
jangan memuji gitu dong, aku jadi GR nanti.”

 “Memangnya
kalian pacaran udah berapa lama?”tanya Viona.

 “Ya
lumayan. 3 tahun 3 bulan 3 hari. Jangan bilang aku pacarnya lagi dong. Kan
sekarang dia udah jadi milik kamu. Aku ‘kan hanya masa lalunya,”kata Siska.

 “Kata
Nico, dia itu Cinta pertamamu ya? Kata orang-orang kan ‘first love never
die’
. Kamu pasti sakit hati banget waktu tahu dia sudah dijodohkan dengan
aku.”

 “Iya
sich. Tapi meskipun kata orang begitu, bagiku dia akan menjadi sahabat aku. Dan
kamu juga akan menjadi sahabat aku dan aku nggak mau menyakiti hati sahabatku.
Dia sudah menjadi masa laluku. Kami sudah mengambil jalan kami masing-masing.
Sudahlah, kita jangan bicarain hal itu lagi ganti topik pembiacaraan aja
deh,”kata Siska.

 “Sebenarnya
aku masih menCintai Nico. Aku belum bisa melupakannya”, batin Siska. Lalu Viona
menemui tamu-tamu yang lain. Kini Nico menghampiri Siska.

 “Sis,
makasih ya kamu udah mau datang. Aku tau hal ini pasti menyakitkan bagimu.
Akupun juga merasakan hal itu. Meskipun begitu aku tetep berusaha gembira agar
tidak melukai hati Viona dan orang tua
kami. Aku masih dan tetap menCintaimu, Sis. Aku nggak akan pernah bisa
melupakanmu,”kata Nico.

 “Sudahlah
Nic. Mungkin kamu tidak ditakdirkan untukku. Biarkan aku menjadi masa lalumu.
Ada pepatah yang mengatakan ‘Cinta itu nggak harus memiliki’. Aku juga
menCintaimu Nic. Biarlah kita jalani hidup kita masing-masing. Sekarang cobalah
untuk menCintai Viona. Akupun telah berusaha untuk menCintai Ardi,”kata Siska.

 Setelah
pesta selesai mereka berpamitan.

tamat “S’lamat tinggal Cintaku, kekasihku. Kar’na Cintaku
tak harus memilikimu. Aku akan menyimpan Cinta kita di dalam laci hatiku,”kata
Siska dalam hati.

SK

January 21st, 2007 by nurma-manis

                                     SEPINTAS KASIH

Hari ini menyebalkan banget, masak aku harus ikut bonyok ke Semarang
karena ada keluarga yang menikah besok, lh, ….akhir tahun masak harus
menghadiri undangan pernikahan. Padahal hari ini aku sama teman-teman mau pergi
ke Tawangmangu, terpaksa deh tadi pagi aku telpon teman-teman aku nggak bisa
pergi. Temen-temen kecewa juga tapi ya mau gimana lagi kita tetap harus nurutin
orang tua.

“May …cepat ! sudah ditunggu Ayah,” teriak Mama dari ruang depan,
sementara aku lagi beresin pakaian-pakaian yang mau aku pakai di sana.

“Ya, ma …bentar, lagi ambil tas.”

Kami berangkat bersama-sama dengan keluarga yang lain. Selama dalam
perjalanan aku hanya diam saja, kalau tidak ditanya aku tidak bicara. Aku
membayangkan apa yang dilakukan teman-teman di Tawangmangu sekarang tanpa aku.
Andai aku bisa menghendaki keinginan orang tuaku dan tetep ikut teman-teman,
pasti aku nggak di sini sekarang.

Uh …perjalanan ini lama banget rasanya. Tapi akhirnya sampai juga di
rumah paman. Di sana aku dikenalkan dengan sepupunya istri pamanku, bibiku.
Namanya Rio, dia orangnya tinggi, lumayan ganteng, rambutnya lurus dan modelnya
kayak Jimmy. Kami kenalan sebentar lalu aku pergi dengan keluarga yang lain ke
tempat hajatan yang berjarak 1 km dari rumah paman.

Selama disana aku hanya jadi bahan promosi keluargaku. Sebel deh ! aku
ini mirip barang saja yang dipromosikan kemana-mana. Sorenya kami kembali ke
rumah paman, istirahat capek banget hari ini.

Lho kok cowok tadi nggak ada ya ? tanyaku dalam hati. Lalu kuberanikan
untuk tanya ke sepupuku.

“Mbak, Rio kemana sih kok nggak ada ? tanyaku pada mbak Nia. Dia
memandang selidik.

“Hayo … ada apa ? Dia kan lagi ke simpang lima. Kalo kamu mau aku bisa
nganterin kamu ke sana kok. Kan dia pulangnya nanti jam 12.00 malam.

Aku mau diantarin mbak Nia ke simpang lima. Di sana kami ketemu Rio, Tia
dan Koko. Mbak Nia kembali pulang dan aku ditinggal. Aku diajak Rio
jalan-jalan. Kami cerita-cerita.

“Eh ya, kamu orang mana sih ?” tanyaku agak ragu soalnya sejak tadi baru
tanya dia orang mana.

“Aku dari Klaten. Aku masih sekolah di SMA N 1 Klaten kelas 2. Kalo kamu
mana ?” Dia balik tanya.

“Aku dari Karanganyar, lumayan jauh juga dari rumah eyang di Sukoharjo.
Aku sekolah di SMP N 2 Karanganyar kelas 2 juga.”

“Eh ! besokkan kamu harus sekolah, emang kamu nggak masuk ? kok nggak
pulang.” Tanyanya.

“E … aku tanggung sih kalo pulang. Sekali-sekali nggak masuk kan nggak pa
pa. Besok aku telfon sekolahan aku akan izin,” kataku. Kulanjutkan “kamu kan
juga harus sekolah besok ?”

“Aku mau ngerasain tahun baru di sini. Bosan tahun baru di Klaten. Aku
pengin suasana yang berbeda,” katanya.

“Aku juga ingin tahun baru disini. Tapi aku nggak tahu apa boleh sama
bonyok,” kataku sedih.

“Ya nanti aku bantu bilang deh. Eh besok kita tahun baru berdua ya,” kata
Rio.

Aku kaget, kenapa tiba-tiba Rio berkata begitu.

“Yo, aku capek jalan terus. Istirahat dulu ya,” pintaku.

“Iya nich, capek juga. Habis tadi aku nggak ngrasa cepek sih.” Rio
tersenyum.

Tak terasa waktu cepat berlalu, sudah jam 12.00 berarti ini sudah tanggal
31. Kami pulang kebetulan ada becak lalu kami naik becak pulang. Belum sampai
rumah paman dia minta becaknya berhenti.

“Lho kan belum sampai kok berhenti,” tanyaku.

“Kita jalan saja ya. Aku mau ngobrol sama kamu tapi aku nggak ingin ada
orang lain dengar katanya. Aku jadi tambah bingung. Lalu kami ngobrol mengenai
diri kami.

“Yo, aku capek banget nih. Jalan dari tadi.”

“Ya udah sini aku gendong.” Kata Rio sambil jongkok di depanku. Daripada
kau pingsan dijalan aku terima tawaran Rio.

“May, gimana kalo kita pacaran saja ?” tanya Rio padaku dan aku kaget,
bingung dll.

“Maksudnya apa ? kan kita saudara masak pacaran.”

“Ya nggak pa pa kan kita hanya saudara jauh. Aku udah tanya paman dan
bibi, katanya boleh kok.”

“Hah !!!” aku kaget. Dia udah bilang sama paman dan bibi.

“Gimana mau nggak kamu ?” desaknya.

“E ….gimana ya. Boleh deh ! tapi ….kan bentar lagi kita pisah tempat.
Kamu kembali ke Klaten sedang aku ke Karanganyar.”

“Iya ya. Tapi kita kan bisa telpon atau kirim surat, alias pacaran jarak
jauh.”

“Ya udah deh nggak pa pa. Aku mau pacaran sama kamu,” jawabku.

Tak terasa aku tertidur padahal belum sampai rumah. Sampai di rumah Rio
mengantar aku ke kamar. Paginya aku bingung kok aku bisa sampai kamar ya ?

Jam 9 kami berangkat ke tempat hajatan. Aku nggak mau naik mobil, aku
memilih naik becak sama Rio. Selama disana kami selalu berdua. Dia memberiku
souvenir keramik angsa.

Malam tahun baru di Semarang ramai sekali. Banyak kembang api, terompet
dan lampu-lampu. Apalagi suasana di simpang lima. Banyak anak muda yang membawa
pasangannya, orang-orang tuapun nggak mau ketinggalan.

Kami pun jalan-jalan mengelilingi taman. Kami membawa banyak kembang api.
Kami juga membawa terompet, persis anak-anak.

Tepat pukul 00.00 suasananya ramai sekali, mereka meniup terompet,
menyalakan kembang api. Kami pulang pukul 01.00, sampai di rumah kami tidur.

“May … bangun udah siang nich,” kata Rio membangunkan aku pukul 06.00.

“Kita akan pulang pukul 08.00. Aku ingin hari ini jadi spesial. Bangun,
mandi, ganti baju dan ikut aku. Cepat,” desak Rio.

“Emang kita mau kemana ?” tanyaku masih setengah sadar.

“Pokoknya ada deh !”

Setelah mandi dan ganti baju, kami pamitan sama orang tua mau
jalan-jalan. Ternyata dia mengajakku ke taman menikmati bubur ayam. Kami
memesan dua.

Waktu makan lidahku kepanasan. Rio berkata kepadaku “Buburnya masih
panas, makanya makannya hati-hati.” Aku mengangguk.

“Sini ! aku suapin.”

Rio menyuapi aku, kadang kala aku juga nyuapin dia. Senang rasanya hari
ini. Tapi kebahagian ini hanya sementara. Sebentar lagi kami akan berpisah,
entah kapan lagi kami akan berjumpa lagi.

“Kenapa sedih, May ?” tanya Rio seakan tau kesedihanku.

“Nggak kok ! aku Cuma sedih soalnya kan bentar lagi kita berpisah,”
kataku tak terasa air mataku mengalir. Rio menghapusnya.

“Jangan sedih, percayalah suatu hari nanti kita akan bertemu lagi.”

Lalu kami kembali ke rumah paman. Sampai di rumah kami sibuk memberesi
barang-barang kami. Jam 08.30 kami pulang, aku ke Karanganyar, Rio ke Klaten.

“Aku menunggumu, ya. Suatu saat kita akan bertemu lagi. Selamat ting….”

“Jangan katakan selamat tinggal May, tapi katakan sampai ketemu lagi.
Kita pasti ketemu lagi kapan-kapan.”

Aku mengangguk.

“Sampai jumpa ya ….”

Lambaian tangan mengiringi perpisahan kami. Entah kapan lagi kami akan
bertemu kembali ….

                                                            Tamat

sc

January 21st, 2007 by nurma-manis

                            SANDIWARA CINTA

“Say,
ingat nggak ini hari apa ?” tanya Tonny sewaktu jalan berdua dengan Vita di
koridor sekolah.

“Ingat ! Inikah hari Jum’at,” jawab Vika cuek.

“Masak lupa sih. Nggak ingat 2 tahun lalu kita ngapain ?” Tonny marah.

“Ok, ok aku masih dan selalu ingat kok.”

“Bagus deh kalau kamu ingat. Aku nggak mungkin lupa. Nanti pulang sekolah
kita main dulu ya, ajak Tonny.

“Ok, Oh ya Ton sekarang aku sahabat baru lagi, namanya Luna. Dia anak
baru dikelasku dan duduk disampingku. Dia anaknya pandai, cantik, dan baik hati
walaupun kadang-kadang dia itu jutek dan egois tapi aku tetap sayang ma dia.”

“Aduh ! sekarang aku punya saingan lagi deh. Pasti sulit deh bagi waktumu
untuk dia dan aku. Aku harus lebih banyak mengalah seperti dulu, “kelih Tonny.

“Gimana ya ? aku sama-sama sayang
kalian pasti aku selalu bisa bagi waktu dengan baik. Percayalah !”

“Ok ! aku selalu percaya padamu. Aku yakin kamu bisa. Ya, udah deh nanti
kita pulang bareng.

Mereka berpisah di depan ruang kelas Vika, karena ruang kelas mereka
berbeda.

“Brengsek ! “Luna membanting tasnya di meja dan Vika kaget.

“Ada apa sih pagi-pagi kok sudah bilang yang nggak enak.” Vika bertanya
dengan takut.

“Itu tuh cowok kamu, sombong banget. Siapa pikirnya dia itu,
mentang-mentang dah punya cewek, waktu kutanya dia malah cuek. Apa nggak sebel
tuh.”

“Emangnya kamu tanya apaan ? Mungkin dia nggak dengar atau nggak
merhatiin kamu ngomong. Ya udah deh maafin dia aja. Nggak baik lho dendam sama
orang, nanti kena karma baru tahu rasa kamu. “Vika membela Tonny.

“Ah …peduli amat, pokoknya gue benci ama cowok itu. Kalau dia bukan cowok
kamu pasti sudah aku hajar tadi.” Luna marah-marah.

Dari hari ke hari kebencian Luna semakin menjadi. Dia nggak pernah
bertegur sapa dengan Tonny. Kalau Tonny mendekati Vika dia menghindari. Pernah
suatu hari soal Tonny memenangkan lomba lari se propinsi dia malah
mencurigainya main curang dengan menyogok jurinya dan meludah ke tanah.

“Ka, tadi Tonny mencoba merayu aku. Aku kagak mau. Dia kan cowok kamu mau
menjadi cowokku juga sih. Entah sudah berapa kali dia coba ngrayu aku tapi
nggak aku pedulikan Luna curhat sama Vika dengan nada tidak percaya.

“Masak sih ?” “Tanya Vika dengan nada tidak percaya.

“Tuh !
sudah kuduga pasti kamu nggak percaya. Dia itu type cowok gombal. Sebenarnya
aku nggak mau bilang ke kamu takut kamu nanti sedih tapi kali ini sudah
kelewatan. Dasar cowok munafik. Beberapa hari yang lalu dia juga ngrayu anak
kelas I di pojok kantin.” Luna memanas-manasi Vika pertengkaran itu nggak
berlangsung lama karena mereka saling instropeksi diri dan masih saling
menyayangi.

“Ka, kan acara ngedate kamu hari minggu nanti batalkan ? Tonny bilang
kekamu kalau dia mau jenguk neneknya. Iya kan ? Bohong besar tuh ! Jenguk nenek
apaan, dia malah ngajakin aku pergi ke bioskop kok, Wah ! dia sudah nggak setia
ma kamu, dan kamu hanya diam saja dibohongin gitu.” Luna bicara dengan semangat
padahal yang diajak bicara sudah drof. Bendungannya hampir bedah Vika sakit
hati banget cowok yang selama ini ia percaya, ia sayangi justru telah
membohonginya.

Kenapa dia bohongin aku? Kalau dia sudah nggak suka aku lagi kan lebih
baik kita putus dengan baik-baik, nggak perlu dia selingkuh dengan sahabatku ?”

“Siapa, ka ? Siapa yang ngomong seperti itu kekamu ? Aku nggak pernah
suka ama cewek lain. Aku hanya sayang ama kamu. Percayalah bukankah hubungan
kita terjalin atas dasar kepercayaan. Kalau kamu sudah nggak percaya aku lagi
itu berarti kamu sudah nggak sayang aku, aku selalu dan selalu sayang ama
kamu.” Tonny menyakinkan Vika.

“Ton, Apakah mungkin Luna suka ama kamu ya ?” Vika bertanya kepada Tonny setelah dia berpikir kenapa Luna
selalu menjelek-jelekkan Tonny dan menfitnahnya ? Tapi Luna benci setengah mati
sama Tonny. Apakah selama ini kata-kata Luna tentang tonny bohong ? Untuk
menutupi bahwa dia suka sama Tonny.

“Nggak tahu lah ! dia kan selalu menghindar kalau aku mau bertanya
sesuatu.”

“Ton, gimana kalau untuk buktiin apa Luna suka ama kamu atau tidak. Kamu
bersikap baik padanya. Kita pura-pura putus lalu kamu nembak dia.”

“Nggak ! aku nggak mau kita putus walaupun Cuma pura-pura. Akut takut ini
akan menjadi nyata. Aku nggak mau kehilangan kamu, ka.” Tonny menolak.

“Ton, ini demi hubungan kita. Aku nggak ingin hubungan kita terganggu
karena orang lain. Kalau kamu banar-benar sayang ama aku kamu harus lakuin ini.
Vika menyakinkan Tonny.

“Baiklah ! Tapi ingat ini hanya sandwara.” Tonny akhirnya setuju setelah
berpikir sejanak.

Kabar putusnya tonny dan Vika sudah tersebut. Teman-teman nggak percaya
kalau mereka sudah putus, Vika cerita pada taman-temannya kalau itu hanya
sandiwara untuk buktiin apa luna suka ama tonny atau tidak dibalik kebenciannya
selama ini.

Setelah nembak Luna Tonny menemui Vika untuk memberitahu kalau Luna Cinta
ama dia. Dan tonny ingin mengakhiri sandiwara ini tapi Vika melarangnya dan
menyuruh Tonny tetap melanjutkan sandiwara ini. Kalau tidak maka mereka akan
putus beneran. Akhirnya tonny setuju untuk melanjutkan sandiwara ini hanya agar
dia tidak kehilangan Vika.

Vika berjanji pada teman-temannya kalau Tonny jadian sama Luna, dia akan
mentraktir teman-temannya di kanting.

Sewaktu Luna curhat mengenai Tonny, Vika menyakinkan kalau Tonny
benar-benar sayang ama dia dan mereka sudah tidak ada hubungan lagi Lunapun
percaya dengan apa yang dikatakan Vika.

Akhirnya saat-saat yang dinantikan teman-temannya pun tiba, vika
mentraktir di kantin. Dia terlihat gembira di depan teman-temannya tapi dalam
hatinya terluka dan hancur berkeping keping. Dia menyayangi mereka berdua. Dia
tidak ingin menangis di depan teman-temannya.

“Ka, masak kamu mau berkorban sih untuk Luna. Padahal diakan yang rebut
kekasih kamu, “komentar Nina saat makan di kanting.

“Karna aku menyanyangi mereka.” Jawab Vika santai.

“Harusnyakan si Luna itu tahu diri dong. Katanya aja sahabat masak tikam
dari belakang. Dan tahu Tonny itu cowok kamu main srobot aja ? Mia menambahi.

“Sudah, sudah kita mau makan atau bahas hal itu sih,” Kata Vika kesal,
nafsu makannya langsung hilang.

Sejak Luna jadian dengan Tonny, Vika tidak lagi duduk dengan Luna, dia
tukar dengan Reni. Vika semakin manjauh dari Tonny dan Luna agar sandiwaranya berhasil. Vika berniat
untuk ninggalin Tonny sekamarnya tanpa sepengrathuan Tonny.

Luna sering curhat ke Vika mengenai Hubungannya dengan Tonny. Hal itu
justru menambah sakit hati Vika. Vika selalu menyimpan kesedihannya di dalam
hati dan saat sedang sendirian Vika menangis.

Hubungan Vika dan Tonny semakin jauh Vika selalu menghindari
tempat-tempat yang biasa mereka datangi dulu. Mungkin sekarang didatangi Luna
dan Tonny, pikirnya.

Nafsu makan Vika turun drastis selama beberapa hari, hingga akhirnya ia
harus dirawat di rumah sakit.

Sewaktu teman-temannya menjenguk Vika masih dalam keadaan tidak sadar,
tetapi dia selalu menyebut nama Tonny. Teman-temannya tidak diam begitu saja,
mereka mencari akal agar dapat mempertemukan Tonny dan Vika tanpa sepengetahuan
Luna. 

“Ton, tunggu ! Aku ingin bicara sebentar,” kata Rony sambil menarik Tonny
ke pojok.

“Ada apa sih pake sembunyi-sembunyi segala.” Tonny penasaran.

“Eh . Ton, kamu dah tahu belum kalau Vika sedang sakit, Dia …”

“Dia sakit apa ? Dimana dia sekarang ? Katakan ! cepat !” Belum selesai Rony bicara Tonny malah bertanya terus.

“Sabar dulu dong. Dia di rumah sakit. Dia nggak sadarkan diri tapi ….dia
selalu menyebutkan namamu terus”.

“Ayo Ron, Anterin aku kesana sekarang, ajak Tonny.

“Tapi Ton … ?” belum selesai bicara. Rony sudah ditarik berjalan ke arah
mobil Tonny.

Ketika tiba di ruang ICU, betapa hancurnya hati Tonny melihat orang yang
ia sayangi terbaring tak berdaya di tempat tidur.

Dia masih mendengar igauan Vika. Air matapun menetes.

“Maafkan aku sayang, Aku tidak pernah memperhatikan kamu. Bukankah kau
selalu mengajarkan untuk selalu tegar dan kuat tapi kenapa sekarang kamu disini
berbaring lemah di sini.”

Tonny menceritakan kenangan-kenangan manis yang mereka jalani dulu. Satu
jam kemudian Vika mulai sadar dan keadaannya berangsur membaik.

Sementara itu, teman-temannya yang kesal dengan sikap Luna memberitahukan
hal yang sebenarnya. Mereka menyalahkan Luna sebagai penyebab sekitnya Vika.

Akhirnya Luna menyadari hal itu. Selama ini dia yang egois, tidak
memperhatikan perasaan Vika. Lalu dia ke rumah sakit, sampai di rumah sakit dia
minta maaf sama Vika. Dia ingin Vika dan Tonny balik lagi. Sandiwara mereka
sudah berakhir.

tamatAkhirnya Vika kembali dengan
Tonny dan Luna dengan Rico yang selama ini ngejar-ngejar dia. Persahabatan
mereka tidak akan pernah putus. Kebenaranlah yang akan menang.


PBK

January 21st, 2007 by nurma-manis

Pacarku Bukanlah Kekasihku

Sejak SMP Nurma dan Kania selalu bersama dan bersahabat. Nurma yang
jutek, cantik, cerewet, lincah dan pintar dalam segala hal. Dan Kania yang
cantik pendiam, ramah, sopan juga pintar dalam pelajaran. Persahabatan mereka
mampu menyatukan segala perbedaan yang mencolok dengan sifat mereka. Mereka
selalu bersaing tapi tidak saling memojokkan dan selalu kompak.

Pulang sekolah Nurma dipanggil Ardi diajak bicara di taman sekolah.

“Ma, sudah lama aku suka kamu dan aku ingin kamu jadi pacar aku, maukan
Ma?

“Plak !” Ardi merasakan pipinya panas, sakit. Dia baru sadar kalau dia
baru saja ditampar. Bukan sebuah jawaban yang diterimanya melainkan sebuah
tamparan. Nurma langsung pergi.

Teman-temannya yang sedang mengintip di balik pohon langsung kaget sambil
memegangi pipi mereka, merasakan seakan-akan pipi mereka yang ditampar.

“Tega amat sih lho !” komentar temannya.

“Sadis lho !” yang lain menambahi.

Nurma menghampiri Kania dan mengajaknya pulang. Dia tidak peduli ocehan
teman-temannya. Di dalam mobil mereka berdua saling diam. Tidak ada yang
berusaha untuk membuka percakapan seperti biasanya. Tak terasa mereka sudah
tiba di depan rumah Kania lalu mereka saling melambaikan tangan.

Beberapa hari kemudian.

“Ma, aku jatuh Cintrong ama cowok baru kelas sebelah. Dia ganteng banget,
baik hati, ramah dan pintar lagi. Wah ! pokoknya dia itu idola cewek deh.
Walaupun punya banyak kelebihan dia itu nggak sombong. Hebatkan ?” puji Kania
dengan semangat.

“Aduh sayang, sudah berapa puluh kali sih, kamu bilang jatuh Cintrong dan
muji-muji cowok setinggi langit tapi akhirnya apa ?” kamu bosan ama mereka
setelah dapat gantinya, ya kan ?” komentar Nurma.

Kania memonyongkan bibirnya.

“Tapi kali ini beda Ma, dia ini lain meskipun banyak cewek yang
ngejar-ngejar dia tapi dia hanya nganggap temen biasa aja. Siapa tahu nanti aku
adalah cewek yang dapat menaklukkannya. There’s nothing imposible in this
world.” Kania masih tetap nekat untuk dapetin cowok idolanya.

“Emang siapa sih namanya hingga kamu tergila-gila padanya.” Tanya Nurma
penasaran.

“Namanya Ari Putra Kurniawan,
masak kamu belum tahu sih. Makanya kamu jangan baca novel melulu dong emangnya
kamu mau pacaran ama novel. Coba deh cuci mata ke kelas-kelas lain. Siapa tahu
dapat kecengan baru. Berapa lama sih kamu mau menghindar terus sama cowok,”
Kania balik nanya.

“Ya, gue nggak bermaksud menghindar dari cowok sih Cuma belum ada yang
cocok. Eh, masak ada sih cowok kelas sebelah yang seperti itu.“ Nurma masih
penasaran. Biasanya nggak.

“Ih, kamu gimana sih, ya udah deh nanti aku kenalin dia.”

Mereka sepakat
akan kenalan dengan Ari besok setelah olah raga.

Nurma berjalan di lorong sambil membaca novel, kebetulan lagi sepi karena
belum waktunya istirahat. Sewaktu mau belok dia tabrakan dengan cowok yang
asyik ngobrol sambil jalan dengan temannya. Nurma jatuh dan novelnya terlempar
beberapa meter darinya. Lalu dia bangun, membersihkan roknya dan mengambil
novelnya.

“Hei ! mata lho itu ditaruh mana sih, jalan nggak liat-liat main srobot
aja, kalau punya mata thu buat liat bukan buat pajangan aja. Kalo nggak ada
gunanya tinggalin aja tuh mata di rumah biar nggak repot bawa ke mana-mana,
Awas lho kalo lain kali nabrak lagi. Heh ! ….”Nurma mengacungkan tinjunya, lalu
Nurma pergi sebelum mendengarkan komentar yang menabraknya.

“Gila kali tuh cewek, jutek banget”, keluh Ryo.

“Cakep banget … ya?” Ari masih mandangin Nurma yang berjalan menuju
kelasnya.

“He ! sinting apa gila sih lho. Dah tahu di marahin cewek kok malah diam
dan malah puji dia sih. Dimana dong harga diri lho sebagai cowok ?
“teman-temannya ikutan marahin Ari. Tapi yang dimarahi malah bengong.

“Yo, siapa sih cewek itu, koko aku belum pernah liat dia. Apa dia juga
murid baru kayak aku?” tanya Ari nerocos yang ditanya malah melongo dan heran.

“Olala, temen kita ini lagi jatuh Cintrong nih. Namanya Nurma, anak kelas
sebelah. Pandai dalam segala hal, tapi sayangnya selalu nolak cowok yang suka
ama dia, jutek, galak, tomboi dan jago bela diri juara 2 nasional, Nih ! yang
pernah jadi korbannya. Dia di jotos waktu nembak dia, “Ryo memberi penjelasan
sambil nunjuk Ryan.

“Iya, gila kali ya tuh cewek nggak doyan ama cowok, Dia lebih mentingin
persahabatan. Setiap kali ada yang nyakitin sahabatnya dia langsung turun
tangan,“ tambah Ryan.

“Ingat nggak kejadian 2 minggu yang lalu ada anak kelas B yang babak
belur, yang kalahin dia tuh Nurma. Kalau mau nembak dia harus siap mental,”
tambah Ryo.

Ari semakin penasaran dan bertekat dengan cara apapun dia akan
mendapatkan Nurma yang penting halal.

Hari ini Nurma uring-uringan terus di rumah sejak pulang sekolah kemarin.
Kenapa sih bayangan cowok itu nggak hilang-hilang juga malah tambah dekat. Apa
yang sebenarnya terjadi padaku ? Apa aku jatuh Cinta padanya ? pikir Nurma.
Tapi aku kan baru saja ketemu dengannya, namanya aja aku nggak tahu.

“Ih …sebel …,” Kania mengoyak rambutnya.

“Ja …di …dia ….itu… A …ri …..” Nurma menggagap sewaktu Kania nunjuk cowok
yang nabrak dia kemarin lusa.

“Iya, emang kenapa sih ?” tanya Kania bingung.

Tidak
mungkin dia mengatakan pada Kania kalau cowok itu yang telah meruntuhkan
hatinya. Dia nggak ingin nyakitin Kania. Mungkin perasaan ini akan hilang
setelah dia lupain cowok itu.

Tapi perasaan itu nggak hilang-hilang juga malah tambah menyiksa karena
dia memendamnya sendiri.

“Ma, aku ingin bicara sebentar,” Ari mengajak Nurma bicara di samping
kelas yang sepi. Nurma nurut aja.

“Ma, aku ingin bilang kalau aku sangat sayang ama kamu. Aku nggak tau
sejak kapan perasaan ini datang. Tapi aku yakin dan percaya kalau aku menCintai
kamu. Sungguh Ma?” Ari memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia
siap menerima apapun jawabannya termasuk tamparan atau jotosan. Tapi ternyata
bukan tamparan atau jotosan yang didapatnya melainkan pegangan tangan.

“Aku …aku
…nggak bisa,” jawab Nurma bingung dia harus berbohong demi sahabatnya. “Aku
nggak suka kamu. Yang suka kamu adalah Kania. Dia sangat menyayangi kamu.
Please, maukan kamu jadian sama dia. Lupain bahwa kamu pernah sayang ama aku.
Aku ingin kita bersahabat saja,” Nurma menjelaskan dengan menundukkan kepala.
Dia tidak ingin Ari melihat air matanya kalau jatuh nanti.

“Aku tahu kamu juga sayang ama aku. Tetapi kamu juga sayang sama
sahabatmu, ya kan ? sampai kapanpun aku akan tetap sayang sama kamu.”

“Maafkan aku Ry, Tapi …” Nurma mencoba menahan air matanya tetapi tidak
bisa, air matanya jatuh dipipinya. Ari melihat air mata itu lalu menghapusnya
dengan tangannya.

“Jangan menangis sayang. Aku nggak ingin kamu sedih. Kalau kamu bahagia
jika aku pacaran dengan Kania. It’s Ok ! aku akan melakukannya. Tapi ingatlah
“A true love always begin with affriendship.” Aku nggak akan pernah berhenti
menCintaimu. Meskipun aku pacaran dengan Kania. Dia bukanlah kekasihku. Kamulah
kekasihku bukan dia, Ingat itu Nurma.” Dengan merah, kesal dan kecewa Ari
meninggalkan Nurma.

Akhirnya Ari jadian sama Kania, Mereka berdua adalah orang-orang yang ia
sayangi. Dia tidak ingin menyakiti mereka berdua.

Beberapa hari kemudian, sewaktu melewati mading Nurma berhenti sebentar
lalu membaca sebuah puisi yang menarik perhatiannya. “Pacarku Bukanlah
Kekasihku” pengarangnya … Ari …kelas 3.F. Aku harus bicara sama Ari, pikirnya.

“Ry, kamu kan yang nulis puisi
itu. Gimana kalo Kania tahu ? Aku nggak ingin nyakitin dia,” tanya Nurma dengan
panik.

“Biarin aja dia tahu aku sudah nggak tahan lagi bersandiwara terus,
pura-pura sayang ama dia.”

“Tapi Ry, aku …” Belum selesai bicara Ari langsung memotong perkatannya.

“Ma, dengarkan aku ! Aku sayang kamu, aku rindu dan kangen …sama kamu.”
Lalu Ari memeluk Nurma. Dan Nurma menumpahkan airmata dan kerinduannya dalam
pelukan Ari.

* *
*

Sudah satu minggu nafsu makan Nurma turun drastis. Dia nggak ingin makan
karena nggak merasa lapar. Walaupun dia merasa agak pusing dia tetap tidak mau
minum obat. Pada saat olah raga lari Nurma tiba-tiba pingsan. Teman-temannya
kaget hanya Ari yang kebetulan lewat melihat dan berlari menolongnya lalu
dibawa ke UKS. Ari menunggunya hingga sadar.

“Ma, sadarlah, Aku disini, di sampingmu. Aku akan selalu menjagamu, aku
nggak akan ninggalin kamu sendirian. Bukalah matamu sayang, “kata-kata Ari
meluncur tanpa peduli taman-teman yang ada disekitarnya. Kania mendengar
kata-kata itu lalu keluar dan menangis. Ryo mengejarnya.

“Yo, kenapa seperti ini, ada apa dengan mereka, Yo, katakan yo yang
sebenarnya. “Kania mendesak Ryo untuk mengatakan yang sebenarnya.

Ryo akhirnya menceritakan apa yang terjadi selama ini. Sebenarnya dia
tidak tega tetapi demi kebaikan semua orang dia harus bicara sekarang.

Nurma sudah sadar dari tadi. Ari sedang menyuapinya makan ketika Kania
masuk. Mereka berdua saling pandang dan Nurma menolak ketika Ari mau menyuapi
lagi.

“Makanlah Nur, bukankah sejak kemarin kamu belum makan. Kamu kan paling
benci kalau lagi sakit jadi kamu harus makan biar nggak sakit.” Kania membujuk
Nurma.

“Ka, maafkan aku. Aku nggak bermaksud untuk …” Nurma mencoba menjelaskan
tetapi Kania langsung memotongnya.

“Sudahlah Nur, aku sudah tahu semuanya, justru aku yang harus minta maaf
karena aku merebut kekasihmu. Kenapa kamu harus menderita demi aku ? kenapa
kamu relakan dia untuku ?”

“Aku …aku …”Nurma berusaha bicara tapi sulit membendung air matanya.” Aku
nggak ingin kehilangan kamu, Ka.”

“Nggak ! kamu nggak akan kehilangan aku, Aku akan tetap jadi sahabatmu.”

“Tapi, Ka. Kamu kan suka Ari.”

“Memang aku suka Ari tapi Cuma sebatas suka, kamulah kekasihnya. Aku
mulai menyadari sejak aku membaca puisi “Pacarku Bukanlah Kekasihku” di mading.
Ternyata aku bukanlah kekasihnya. Dan sekarang aku sudah menemukan kekasihku
yang hilang”. Kania keluar dan mengajak Ryo masuk, Nurma dan Ari kaget dan
heran.

“Nih, dia. Ingatkan Nur, ini cowok yang aku sukai waktu pertama kali
masuk sini. Dia juga suka aku tapi nggak berani ngungkapin. Dasar cowok
pengecut ! tapi aku sayang ama dia,” ujar Kania.

“All right, kita nggak perlu sandiwara lagikan sayang,” kata Ari saat
memegang tangan Nurma.

“Wah, kamu mau mencoba merayuku ?”

“Kalau boleh, gimana kalau aku mengantar pulang ?” tawar Ari.

“Ok ! aku pikir-pikir dulu,” Langsung Nurma diajak pulang.

“Sekarang inilah kekasih hatiku, “bisik Ari saat memegang tangannya.

 
   

 

 

   

   

 

Tamat


kms

January 21st, 2007 by nurma-manis

 
 

                                    KENANGAN MASA LALU

           Kelas 2.5 kedatangan penghuni baru, berjenis kelamin
cowok, namanya Arya Eka Kurniawan.
Tampangnya lumayan juga untuk cover majalah, udah pinter anak orang kaya lagi.
Baru beberapa minggu disitu aja dia udah jadi rebutan cewek-cewek.

Hari masih lumayan pagi ketika Arya sampai di sekolah, kelas masih sepi.

“Pagi Arya, ganteng amat hari ini, “sapa Indri, maklum dia itu naksir
berat sama Arya sejak pertama dia datang.

“Ah………..yang bener perasaan amat nggak ganteng deh, “Jawab Arya
seenaknya.

“Sialan lho,” Indri nyengir sedang Arya pergi kebangkunya.

Jam terakhir pelajaran kimia kosong, kelas langsung ganti warna jadi
pasar baru, ada yang nyanyi dadakan, ngrumpi, kalau cewek sih kebanyakan
dandan, maklum sebentar lagikan mereka dijemput pacar mereka.

“Dick, dick………”

“Him…………..ada apaan sih”

“Dick, aku mau tanya kok Kania Suci Widyaningrum itu pendiam banget, masa
aku disini udah dua bulan lebih, dia nggak pernah ngajak bicara, negur juga
nggak, apa dia itu sombong ya?”

“Kamu itu bodoh atau bego sih, dah tau dia itu pendiam masih mengharapkan
dia negur kamu. Eh! Kayaknya kamu ada perhatian khusus sama dia”. Ditodong
begitu, muka si Arya langsung merah padam. Melihat reaksi itu Dicky langsung
tertawa lebar.

“Suka sih nggak, Cuma penasaran”.

“Penasaran atau penaksiran? Kalau kamu penasaran dan menuju penaksiran
selidiki dong”.

Arya nggak lagi konsen sama percakapannya dengan Dicky, soalnya dia lagi
asyik memperhatikan Kania yang sedang baca novel. Entah berapa puluh atau ratus
buku yang ia baca. Selama ini. Dan sialnya yang diperhatikan ngerti dan
langsung pasang mata sinis. Arya kaget karena ketahuan, langsung pura-pura
lihat Angel yang sedang bernyanyi di pojok.

Bel pulang baru saja berteriak-teriak menyuruh anak-anak keluar dari
kelas dan pulang kerumah masing-masing.

“Hai”, sapa Arya saat melihat Kania melewatinya. Kania tidak menjawab,
dia Cuma tersenyum sedikit. Tapi biarpun sedikit senyum itu mampu membuat cowok
berbekuk lutut. Tidak jauh beda dengan Arya saat ini.

Arya
belum pernah melihat senyum di bibir Kania. Meskipun dia dipuji guru karena
nilainya terbaik dia nggak pernah senyum paling cuma  ngucapin terima kasih. Dia nggak nyangka senyumannya itu lebih
indah dari bayangannya selama ini.

Sampai dirumah, seperti biasa Kania ganti baju, sholat lalu makan siang
dengan kakanya. Mamanya sudah meninggal tiga tahun yang lalu karena penyakit
leukimia. Sedang ayahnya selalu sibuk bekerja di kantor atau di luar kota
bahkan kadang-kadang di luar negeri sampai berminggu-minggu. Dia jarang sekali
berada di rumah. Seluruh waktunya ia gunakan untuk bekerja.

Sejak
mamanya meninggal orang-orang paling dekat dengan Kania adalah kakaknya. Pada
waktu mamanya sakit, ayahnya tidak pernah berada disampingnya, kalau menjenguk
hanya menanyakan keadaannya saja kemudian pergi lagi dengan alasan sibuk
bekerja. Sejak pemakaman mamanya Kania mulai menjauh dari makhluk yang namanya
cowook. Dia menganggp bahwa semua cowok itu jahat, kecuali kak Deny, kakaknya.

Pernah suatu hari kakaknya menasehati agar tetap percaya sama cowok.
Masih banyak cowok yang baik di dunia ini, setiap orang pasti pernah mengalami
kejadian buruk dalam hidupnya, tapi orang itu nggak boleh trauma seumur hidup.
Belum selesai kakaknya menasehati, eh… dia langsung pergi ke kamar dan
mengurung diri seharian. Sejak saat itu kakaknya nggak mau membahas hal itu
lagi.

Di dalam kamar, Kania mencoba memejamkan mata, tapi bayangan Arya selalu
muncul dalam pikirannya. Karena tidak bisa tidur, Kania bangun dan memandang
sekelilingnya. Disamping tempat tidur ada foto kenangan keluarganya yang dibuat
empat tahun yang lalu. Lalu ada foto terakhir dengan ibunya saat berlibur di
pantai Senggigi. Kemudian tatapannya tertuju pada rak-rak buku dan almari yang
semuanya sudah penuh dengan novel yang ia baca. Dia berniat kapan-kapan dia
akan membuka perpustakaan pribadi di kamar bawah. Bahkan sampai malampun Kania
belum bisa tidur.

Pagi harinya seperti biasa Kania pergi ke sekolah setelah sarapan lalu
diantar kak Deny.

“Ka, boleh aku tanya sesuatu?” Kak Deny memulai pembicaraan karena sejak
tadi mereka sama-sama diam.

“Boleh aja, emang apa yang ingin Kak Deny tanyakan.”

“Aku lihat cowok yang nyapa kamu kemarin kayaknya dia naksir kamu. Apa
kamu juga naksir dia.”

“Ah….. kak Deny bisa saja. Diakan Cuma anak baru di kelas aku”. Kania
mencoba mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.

“Kok dia mirip banget ya. Sama…….siapa yang namanya. Oh ya Nanda, mantan
cowokmu itu”.

Wajah Kania langsung pucat dan merasa kejadian 3 tahun yang lalu muncul
di depannya.

“Sorry ya Ka, aku nggak bermaksud membuka kenangan lama”. Kak Deny
keceplosan ucapannya tadi.

“Pagi Kania, apa kabar ? apa aku mengganggumu?” sapa Arya, diam.

Dengan cueknya Arya langsung duduk di sebelah Kania. Kania cuma melirik
sekilas lalu melanjutkan membaca novel.

“Saya disini sudah hampir 3
bulan, Cuma kamu yang belum pernah ngobrol sama aku, kenapa? Kamu benci sama
aku, tapi apa salahku atau kamu lagi sariawan, tapi masa sariawan lama banget
sembuhnya, eh jadi lupa namamu Kani Suci Widyaningrum khan ? kalau aku Arya Eka
Kurniawan, rumahku di jalan Merpati, rumah kamu dimana?” tanya Arya nerocos
tapi yang ditanya cuma diam.  Kali ini
Arya sudah kehabisan kata-kata nggak tahu mesti ngapain, Arya menyerah.

“Aku pergi dulu ya, lain kali pasti aku akan menemani kamu lagi. “Arya
pergi dengan perasaan kecewa lalu bergabung dengan teman-temannya. Kania
menghentikannya kegiatannya, pandangannya tertuju pada Arya yang sedang ngobrol
dengan teman-temannya.

“Gimana Ar, berhasil nggak?” Arya hanya mengecilkan bahu lalu menunduk
kecewa.

“Jangan putus asa gitu dong, coba aja lagi, siapa tahu gagal maneh gagal
maneh.” Arya mendelik, sedangkan Dicky cekikikan.

“Dulu, Kania itu orangnya ramah banget sama orang, supel, enak diajak
ngobrol, tapi……….. sejak kelas 2 SMP dia jadi pendiam banget, menutup diri,
nggak tahu deh kenapa?” Arya memperhatikan Dicky dengan serius dan tentu saja
heran dari mana Dicky tahu tentang Kania.

“Kamu nggak usah bingung begitu”. Sahud Dicky seakan mengetahui
kebingungan Arya. “Sejak SD, SMP sampai sekarang dia tuh satu kelas sama aku
dan selalu duduk di depanku so kita sering ngobrol. Sekarang buruan dong
berjuang untuk mendapatkannya, semangat!”

Sejak mendapat dukungan Dicky, Arya jadi lebih bersemangat untuk
ngumpulin data yang berhubungan dengan Kania. Arya makin senang mengikuti semua
gerak gerik Kania mulai dari berangkat sekolah sampai pulang sekolah.

Kania bukannya tidak tahu soal itu, dia cuma cuek aja meski kesel juga,
banyangin aja ke kantin, ke perpus, dan semua kegiatannya disekolah dan di luar
sekolah diikuti kaya’ body guard aja. Pernah suatu hari waktu keluar dari kamar
mandi, eh si Arya ada di depan pintu apa nggak dongkol tuh.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari tadi tapi Kania belum pulang,
tidak seperti biasanya memang bukan tanpa alasan soalnya langit lagi nangis
alias lagi hujan nggak bersahabat. Jadi pentas aja kalau Kania belum pulang.
Sekolah sudah mulai sepi, anak-anak yang lain sudah dijemut pacarnya, orang
tua, sopir, naik bus ataupun tukang becak yang biasa mangkal di depan sekolah
tapi sampai sekarang kok Deny belum jemput juga.

“Belum pulang ka ?”
Kania menoleh tersenyum sedikit, tapi senyum itu sudah membuat orang yang
menyapanya kaget. “Bagaimana kalau pulang bareng sama aku, kebetulan aku bawa
mobil sendiri, gimana ?”

“Rupanya lho itu orang yang nggak gampang menyerah juga.” Lalu Kania
pergi menembus hujan yang lumayan lebat. Arya Cuma nyengir “Dasar cewek aneh
bin ajaib tapi menarik”. 

Malamnya, Kania menerima SMS dari Arya yang isinya “Ka, I love you.”
Entah sudah berapa kali. Dengan kesal Kania membalas SMS itu “Besok aku tunggu
di rumahku jam 10!

Jam sepuluh kurang sepuluh, Arya sudah tiba di depan rumah Kania. Rumah
dengan halaman yang luas dengan pagar rumah berwarna biru. Salam di depan rumah
itu tidak begitu ramai, maklum tidak dilewati kendaraan umum. Baru saja Arya
akan memencet Bel.

“Hei, rupanya kamu nggak kalah sama orang Amerika.” Kania membuka pintu.
Arya tertegun dengan gadis yang ada didepannya. Penampilannya berbeda sekali
dengan waktu di sekolah.

“Mau masuk atau terus berdiri di sini ?” Arya mengikuti Kania menuju
taman belakang.

“Kok sepi Ka ?”

“Iya, kak Deny lagi ke Ultah temennya, kalau ayah pergi ke Singapura
urusan bisnis.”

“Ibumu ?”

“Mama sudah meninggal tiga tahun yang lalu karena leukimiai, duduk dulu
aku mau ambil sesuatu.”

Arya memperhatikan taman bunga yang ada didepannya lumayan asri dan
indah. Tak lama kemudian Kania keluar dengan nampan berisi dua gelas air sirup
dan sebuah buku, seperti album.

“Sorry ya Ka, aku nggak bermaksud membuka kenangan tentang mamamu, Oh ya
Ka kamu suka bunga ya ?” Kania Cuma tersenyum dan Arya semakin heran dengan
sikap Kania yang berubah.

“Kamu nggak usah heran begitu.” Seakan Kania tahu kalau Arya lagi heran.”
Saya menyuruh kamu ke sini agar kamu tahu kenapa sikap saya seperti itu di
sekolah, sebenarnya aku juga pingin bersikap seperti ini di sekolah, tapi aku
terlanjur benci dengan teman-teman, terlebih sejak kamu datang, aku jadi malas
ngomong di sekolah.”

“Tapi kenapa kamu nggak suka sama aku ?”

“Kenapa ? karena ini.” Kania menyodorkan album kepada Arya. Arya membuka
album itu satu per satu dan dia semakin heran dengan isi album itu, dia seperti
melihat gambar dirinya di situ, hanya bedanya cowok yang ada di foto itu model
rambutnya Aristian Staler dalam film Broken Arrow, sedang dia rambutnya kaya
wonbin. Kania seperti tahu kalau Arya bingung.

“Itu memang bukan foto kamu, itu foto Nanda, mantan pacarku waktu SMP
dulu, Dicky juga tahu itu.”

“Tapi selama ini aku nggak pernah lihat kamu jalan sama dia.”

“Kami
sudah putus waktu pertengahan kelas dua SMP. Waktu itu aku sedang sibuk
menemani mamaku yang sedang sakit. Jadi kami jarang ketemu, lalu dia mencari
cewek lain dan semua temanku tahu kalau dia nyleweng, tapi nggak ada satupun
yang ngasih tahu aku. Pada waktu pemakaman mama, dia tidak datang lalu aku
pergi ke rumahnya. Disana aku melihat sendiri kalau dia benar nyleweng. Lalu
kami pisah dan sempat ribut. Disana aku sedang sedih kehilangan mama, papa
sibuk dengan urusan bisnis ditambah dengan dia nyleweng, aku tambah hancur.
Lalu aku sakit selama satu minggu.”

“Lantas kenapa kamu menjauh dari teman-teman ?” tanya Arya binggung.

“Saya kecewa sama mereka, seandainya saja waktu itu mereka terus terang
dan tidak menutupi kejadian itu, aku pasti maafin mereka.”

“Apa karena aku mirip dia, lantas kamu benci aku mirip dia.” Desak Arya
dengan kecewa.

“Kamu memang tidak salah, tapi kehadiranmu telah membuka kenangan saya.”

“Maafkan aku Ka, tapi kamu mau kita bersahabat dengan ku?” Arya
menawarkan diri.

“Kita lihat saja bagaimana nanti, OK !”

“Ok, kalau gitu boleh kan aku ngajak kamu jalan-jalan.” Arya bingung
sendiri gimana kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya, tapi dia bersyukur
karena Kania setuju.

“Boleh juga, udah lama aku nggak jalan-jalan. Tunggu sebentar ya, aku
ganti baju dulu.”

“Di depan rumah terdengar suara mobil kak Deny. Kak Deny heran melihat
penampilan adiknya.“ Belum heran rasa herannya, dia melihat Kania keluar
bergandengan tangan dengan Arya.

“Jangan kau kecewakan adikku, aku nggak mau melihat adikku kecewa untuk
kedua kalinya.”

“Ok !” saya akan menjaganya dengan baik.” Arya berjanji.

“Makasih ya kak, kak Deny emang kakak yang terbaik.” Kania memeluk
kakaknya dengan perasaan senang.

“Hati-hati, dijalan ya …”

“Da … Kak Deny.” Sambil melambaikan tangan Kania masuk ke mobil, lalu
didalam mobil mereka berdua sama-sama tersenyum dan gembira. Dalam hati mereka
berkata, “Terima kasih Tuhan, kau telah memberiku kesempatan untuk menCintai
dan menyayanginya.”

   

 

tamat

kms

January 21st, 2007 by nurma-manis

   

KENANGAN MASA LALU

 
 

Kelas 2.5 kedatangan penghuni baru, berjenis kelamin
cowok, namanya Arya Eka Kurniawan.
Tampangnya lumayan juga untuk cover majalah, udah pinter anak orang kaya lagi.
Baru beberapa minggu disitu aja dia udah jadi rebutan cewek-cewek.
Hari masih lumayan pagi ketika Arya sampai di sekolah, kelas masih sepi.

“Pagi Arya, ganteng amat hari ini, “sapa Indri, maklum dia itu naksir
berat sama Arya sejak pertama dia datang.

“Ah………..yang bener perasaan amat nggak ganteng deh, “Jawab Arya
seenaknya.

“Sialan lho,” Indri nyengir sedang Arya pergi kebangkunya.

Jam terakhir pelajaran kimia kosong, kelas langsung ganti warna jadi
pasar baru, ada yang nyanyi dadakan, ngrumpi, kalau cewek sih kebanyakan
dandan, maklum sebentar lagikan mereka dijemput pacar mereka.

“Dick, dick………”

“Him…………..ada apaan sih”

“Dick, aku mau tanya kok Kania Suci Widyaningrum itu pendiam banget, masa
aku disini udah dua bulan lebih, dia nggak pernah ngajak bicara, negur juga
nggak, apa dia itu sombong ya?”

“Kamu itu bodoh atau bego sih, dah tau dia itu pendiam masih mengharapkan
dia negur kamu. Eh! Kayaknya kamu ada perhatian khusus sama dia”. Ditodong
begitu, muka si Arya langsung merah padam. Melihat reaksi itu Dicky langsung
tertawa lebar.

“Suka sih nggak, Cuma penasaran”.

“Penasaran atau penaksiran? Kalau kamu penasaran dan menuju penaksiran
selidiki dong”.

Arya nggak lagi konsen sama percakapannya dengan Dicky, soalnya dia lagi
asyik memperhatikan Kania yang sedang baca novel. Entah berapa puluh atau ratus
buku yang ia baca. Selama ini. Dan sialnya yang diperhatikan ngerti dan
langsung pasang mata sinis. Arya kaget karena ketahuan, langsung pura-pura
lihat Angel yang sedang bernyanyi di pojok.

Bel pulang baru saja berteriak-teriak menyuruh anak-anak keluar dari
kelas dan pulang kerumah masing-masing.

“Hai”, sapa Arya saat melihat Kania melewatinya. Kania tidak menjawab,
dia Cuma tersenyum sedikit. Tapi biarpun sedikit senyum itu mampu membuat cowok
berbekuk lutut. Tidak jauh beda dengan Arya saat ini.

Arya
belum pernah melihat senyum di bibir Kania. Meskipun dia dipuji guru karena
nilainya terbaik dia nggak pernah senyum paling cuma  ngucapin terima kasih. Dia nggak nyangka senyumannya itu lebih
indah dari bayangannya selama ini.

Sampai dirumah, seperti biasa Kania ganti baju, sholat lalu makan siang
dengan kakanya. Mamanya sudah meninggal tiga tahun yang lalu karena penyakit
leukimia. Sedang ayahnya selalu sibuk bekerja di kantor atau di luar kota
bahkan kadang-kadang di luar negeri sampai berminggu-minggu. Dia jarang sekali
berada di rumah. Seluruh waktunya ia gunakan untuk bekerja.

Sejak
mamanya meninggal orang-orang paling dekat dengan Kania adalah kakaknya. Pada
waktu mamanya sakit, ayahnya tidak pernah berada disampingnya, kalau menjenguk
hanya menanyakan keadaannya saja kemudian pergi lagi dengan alasan sibuk
bekerja. Sejak pemakaman mamanya Kania mulai menjauh dari makhluk yang namanya
cowook. Dia menganggp bahwa semua cowok itu jahat, kecuali kak Deny, kakaknya.

Pernah suatu hari kakaknya menasehati agar tetap percaya sama cowok.
Masih banyak cowok yang baik di dunia ini, setiap orang pasti pernah mengalami
kejadian buruk dalam hidupnya, tapi orang itu nggak boleh trauma seumur hidup.
Belum selesai kakaknya menasehati, eh… dia langsung pergi ke kamar dan
mengurung diri seharian. Sejak saat itu kakaknya nggak mau membahas hal itu
lagi.

Di dalam kamar, Kania mencoba memejamkan mata, tapi bayangan Arya selalu
muncul dalam pikirannya. Karena tidak bisa tidur, Kania bangun dan memandang
sekelilingnya. Disamping tempat tidur ada foto kenangan keluarganya yang dibuat
empat tahun yang lalu. Lalu ada foto terakhir dengan ibunya saat berlibur di
pantai Senggigi. Kemudian tatapannya tertuju pada rak-rak buku dan almari yang
semuanya sudah penuh dengan novel yang ia baca. Dia berniat kapan-kapan dia
akan membuka perpustakaan pribadi di kamar bawah. Bahkan sampai malampun Kania
belum bisa tidur.

Pagi harinya seperti biasa Kania pergi ke sekolah setelah sarapan lalu
diantar kak Deny.

“Ka, boleh aku tanya sesuatu?” Kak Deny memulai pembicaraan karena sejak
tadi mereka sama-sama diam.

“Boleh aja, emang apa yang ingin Kak Deny tanyakan.”

“Aku lihat cowok yang nyapa kamu kemarin kayaknya dia naksir kamu. Apa
kamu juga naksir dia.”

“Ah….. kak Deny bisa saja. Diakan Cuma anak baru di kelas aku”. Kania
mencoba mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.

“Kok dia mirip banget ya. Sama…….siapa yang namanya. Oh ya Nanda, mantan
cowokmu itu”.

Wajah Kania langsung pucat dan merasa kejadian 3 tahun yang lalu muncul
di depannya.

“Sorry ya Ka, aku nggak bermaksud membuka kenangan lama”. Kak Deny
keceplosan ucapannya tadi.

“Pagi Kania, apa kabar ? apa aku mengganggumu?” sapa Arya, diam.

Dengan cueknya Arya langsung duduk di sebelah Kania. Kania cuma melirik
sekilas lalu melanjutkan membaca novel.

“Saya disini sudah hampir 3
bulan, Cuma kamu yang belum pernah ngobrol sama aku, kenapa? Kamu benci sama
aku, tapi apa salahku atau kamu lagi sariawan, tapi masa sariawan lama banget
sembuhnya, eh jadi lupa namamu Kani Suci Widyaningrum khan ? kalau aku Arya Eka
Kurniawan, rumahku di jalan Merpati, rumah kamu dimana?” tanya Arya nerocos
tapi yang ditanya cuma diam.  Kali ini
Arya sudah kehabisan kata-kata nggak tahu mesti ngapain, Arya menyerah.

“Aku pergi dulu ya, lain kali pasti aku akan menemani kamu lagi. “Arya
pergi dengan perasaan kecewa lalu bergabung dengan teman-temannya. Kania
menghentikannya kegiatannya, pandangannya tertuju pada Arya yang sedang ngobrol
dengan teman-temannya.

“Gimana Ar, berhasil nggak?” Arya hanya mengecilkan bahu lalu menunduk
kecewa.

“Jangan putus asa gitu dong, coba aja lagi, siapa tahu gagal maneh gagal
maneh.” Arya mendelik, sedangkan Dicky cekikikan.

“Dulu, Kania itu orangnya ramah banget sama orang, supel, enak diajak
ngobrol, tapi……….. sejak kelas 2 SMP dia jadi pendiam banget, menutup diri,
nggak tahu deh kenapa?” Arya memperhatikan Dicky dengan serius dan tentu saja
heran dari mana Dicky tahu tentang Kania.

“Kamu nggak usah bingung begitu”. Sahud Dicky seakan mengetahui
kebingungan Arya. “Sejak SD, SMP sampai sekarang dia tuh satu kelas sama aku
dan selalu duduk di depanku so kita sering ngobrol. Sekarang buruan dong
berjuang untuk mendapatkannya, semangat!”

Sejak mendapat dukungan Dicky, Arya jadi lebih bersemangat untuk
ngumpulin data yang berhubungan dengan Kania. Arya makin senang mengikuti semua
gerak gerik Kania mulai dari berangkat sekolah sampai pulang sekolah.

Kania bukannya tidak tahu soal itu, dia cuma cuek aja meski kesel juga,
banyangin aja ke kantin, ke perpus, dan semua kegiatannya disekolah dan di luar
sekolah diikuti kaya’ body guard aja. Pernah suatu hari waktu keluar dari kamar
mandi, eh si Arya ada di depan pintu apa nggak dongkol tuh.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari tadi tapi Kania belum pulang,
tidak seperti biasanya memang bukan tanpa alasan soalnya langit lagi nangis
alias lagi hujan nggak bersahabat. Jadi pentas aja kalau Kania belum pulang.
Sekolah sudah mulai sepi, anak-anak yang lain sudah dijemut pacarnya, orang
tua, sopir, naik bus ataupun tukang becak yang biasa mangkal di depan sekolah
tapi sampai sekarang kok Deny belum jemput juga.

“Belum pulang ka ?”
Kania menoleh tersenyum sedikit, tapi senyum itu sudah membuat orang yang
menyapanya kaget. “Bagaimana kalau pulang bareng sama aku, kebetulan aku bawa
mobil sendiri, gimana ?”

“Rupanya lho itu orang yang nggak gampang menyerah juga.” Lalu Kania
pergi menembus hujan yang lumayan lebat. Arya Cuma nyengir “Dasar cewek aneh
bin ajaib tapi menarik”. 

Malamnya, Kania menerima SMS dari Arya yang isinya “Ka, I love you.”
Entah sudah berapa kali. Dengan kesal Kania membalas SMS itu “Besok aku tunggu
di rumahku jam 10!

Jam sepuluh kurang sepuluh, Arya sudah tiba di depan rumah Kania. Rumah
dengan halaman yang luas dengan pagar rumah berwarna biru. Salam di depan rumah
itu tidak begitu ramai, maklum tidak dilewati kendaraan umum. Baru saja Arya
akan memencet Bel.

“Hei, rupanya kamu nggak kalah sama orang Amerika.” Kania membuka pintu.
Arya tertegun dengan gadis yang ada didepannya. Penampilannya berbeda sekali
dengan waktu di sekolah.

“Mau masuk atau terus berdiri di sini ?” Arya mengikuti Kania menuju
taman belakang.

“Kok sepi Ka ?”

“Iya, kak Deny lagi ke Ultah temennya, kalau ayah pergi ke Singapura
urusan bisnis.”

“Ibumu ?”

“Mama sudah meninggal tiga tahun yang lalu karena leukimiai, duduk dulu
aku mau ambil sesuatu.”

Arya memperhatikan taman bunga yang ada didepannya lumayan asri dan
indah. Tak lama kemudian Kania keluar dengan nampan berisi dua gelas air sirup
dan sebuah buku, seperti album.

“Sorry ya Ka, aku nggak bermaksud membuka kenangan tentang mamamu, Oh ya
Ka kamu suka bunga ya ?” Kania Cuma tersenyum dan Arya semakin heran dengan
sikap Kania yang berubah.

“Kamu nggak usah heran begitu.” Seakan Kania tahu kalau Arya lagi heran.”
Saya menyuruh kamu ke sini agar kamu tahu kenapa sikap saya seperti itu di
sekolah, sebenarnya aku juga pingin bersikap seperti ini di sekolah, tapi aku
terlanjur benci dengan teman-teman, terlebih sejak kamu datang, aku jadi malas
ngomong di sekolah.”

“Tapi kenapa kamu nggak suka sama aku ?”

“Kenapa ? karena ini.” Kania menyodorkan album kepada Arya. Arya membuka
album itu satu per satu dan dia semakin heran dengan isi album itu, dia seperti
melihat gambar dirinya di situ, hanya bedanya cowok yang ada di foto itu model
rambutnya Aristian Staler dalam film Broken Arrow, sedang dia rambutnya kaya
wonbin. Kania seperti tahu kalau Arya bingung.

“Itu memang bukan foto kamu, itu foto Nanda, mantan pacarku waktu SMP
dulu, Dicky juga tahu itu.”

“Tapi selama ini aku nggak pernah lihat kamu jalan sama dia.”

“Kami
sudah putus waktu pertengahan kelas dua SMP. Waktu itu aku sedang sibuk
menemani mamaku yang sedang sakit. Jadi kami jarang ketemu, lalu dia mencari
cewek lain dan semua temanku tahu kalau dia nyleweng, tapi nggak ada satupun
yang ngasih tahu aku. Pada waktu pemakaman mama, dia tidak datang lalu aku
pergi ke rumahnya. Disana aku melihat sendiri kalau dia benar nyleweng. Lalu
kami pisah dan sempat ribut. Disana aku sedang sedih kehilangan mama, papa
sibuk dengan urusan bisnis ditambah dengan dia nyleweng, aku tambah hancur.
Lalu aku sakit selama satu minggu.”

“Lantas kenapa kamu menjauh dari teman-teman ?” tanya Arya binggung.

“Saya kecewa sama mereka, seandainya saja waktu itu mereka terus terang
dan tidak menutupi kejadian itu, aku pasti maafin mereka.”

“Apa karena aku mirip dia, lantas kamu benci aku mirip dia.” Desak Arya
dengan kecewa.

“Kamu memang tidak salah, tapi kehadiranmu telah membuka kenangan saya.”

“Maafkan aku Ka, tapi kamu mau kita bersahabat dengan ku?” Arya
menawarkan diri.

“Kita lihat saja bagaimana nanti, OK !”

“Ok, kalau gitu boleh kan aku ngajak kamu jalan-jalan.” Arya bingung
sendiri gimana kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya, tapi dia bersyukur
karena Kania setuju.

“Boleh juga, udah lama aku nggak jalan-jalan. Tunggu sebentar ya, aku
ganti baju dulu.”

“Di depan rumah terdengar suara mobil kak Deny. Kak Deny heran melihat
penampilan adiknya.“ Belum heran rasa herannya, dia melihat Kania keluar
bergandengan tangan dengan Arya.

“Jangan kau kecewakan adikku, aku nggak mau melihat adikku kecewa untuk
kedua kalinya.”

“Ok !” saya akan menjaganya dengan baik.” Arya berjanji.

“Makasih ya kak, kak Deny emang kakak yang terbaik.” Kania memeluk
kakaknya dengan perasaan senang.

“Hati-hati, dijalan ya …”

“Da … Kak Deny.” Sambil melambaikan tangan Kania masuk ke mobil, lalu
didalam mobil mereka berdua sama-sama tersenyum dan gembira. Dalam hati mereka
berkata, “Terima kasih Tuhan, kau telah memberiku kesempatan untuk menCintai
dan menyayanginya.”

   

 

tamat

puisIQ5

January 18th, 2007 by nurma-manis

            KEKASIH HATI
Di suatu malam yang gelap
sunyi senyap dan dingin
kau hadirkan sebuah cahaya
terangi segala kegelapan ini

Di saat ku terluka
kau hadir tuk obatinya
kau sembuhkannya
bahkan menjaganya

Saat kehancuran menerpa
kau datang kumpulkan
keping-keping hati yang tersisa
dengan sabar dan penuh cinta

Kini baru kusadari
di saat semuanya hampir berakhir
kau menghilang
tanpa kata yang terucap
sebagai janji yang mengikat